• Jelajahi

    Copyright © FBINEWS JATIM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Padepokan Eyang Macan Putih, Pejuang Pelestari Kesenian Tradisional Dan Budaya Dari Kelurahan Pulorejo-Kota Mojokerto

    Fuad Abdullah
    Kamis, 15 Desember 2022, 15.41 WIB Last Updated 2022-12-15T08:41:29Z


    Mojokerto- FBINEWS 

    Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas atau kesenian tradisional. Ada reog, jaranan, bantengan campursari, wayang kulit, wayang orang dan lain-lain. Namun sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini kesenian tradisional di Indonesia banyak ditinggalkan oleh generasi muda negeri ini dan mereka lebih cenderung menyukai berbagai kebudayaan dari luar. 

    Ada banyak faktor yang mempengaruhi terkikisnya minat generasi muda dari kesenian tradisional beralih kepada kesenian modern atau kesenian manca negara. Salah satunya adalah dampak perkembangang informasi yang cepat dan luas melalui berbagai media seperti televisi dan HP. 



    Ditengah gencarnya hempasan terhadap perkembangan kesenian tradisional, Padepokan Eyang Macan Putih Kota Mojokerto bertekad untuk terus mempetahankan kelestariannya. Ada beberapa kesenian tradisional yang terus dilestarikan oleh Padepokan yang berada di kelurahan Pulorejo tersebut. Yaitu kesenian jaranan, reok, campursari dan bantengan. 

    Padepokan Eyang Macan Putih berdiri sejak tahun 2009. Pengalaman pentasnya selain di kota dan kabupaten Mojokerto juga sudah ke berbagai kota lain seperti di Malang, Lamongan, Bojonegoro, Gresik dan Jakarta (Taman Mini Indonesia Indah). 



    Pimpinan Padepokan Eyang Macan Putih, Yudi Indramawan (48) atau yang biasa dipanggil Gus Yudi menyampaikan bahwa perjalanan memimpin Padepokan hingga tenar seperti saat ini tidak semulus apa yang di bayangkan orang. Ada banyak halangan dan rintangan. Termasuk dari tetangga sekitar. 

    Awalnya langkahnya Gus Yudi diajak teman untuk main ke salah satu pondok di Kediri. Ternyata disana ada kegiatan mengobati orang dan dilanjutkan dengan mengaji. Menurutnya mengaji di sana aneh. Banyak orang yang menangis. Gus Yudi pun turut mengamati dan menghayati apa yang disampaikan dalam pengajian itu. 

    "Saya diperlihatkan orang tua saya. Kalau saya berbuat seperti ini (berbuat buruk), orang tua saya akan disiksa begini-begini. Disitu saya menangis sampai nggak bisa berhenti. Terus saya dikasih minum oleh teman saya, baru bisa berhenti menangis," cerita Gus Yudi. 

    Dari situ kemudian setiap hari Senin dan Kamis Gus Yudi mengadakan doa bersama dengan teman-temannya. Namanya mujahadah. Sewaktu mujahadah itu ada salah satu anak yang kesurupan. 

    "Sewaktu mujahadah itu ada salah satu anak yang kesurupan. Akhirnya saya sembuhkan, bisa. Tak kembalikan lagi, bisa. Loh... ini bisa dibuat untuk kesenian. Jadi saya memikirkan mau mencoba mengembangkan atau melestarikan kesenian (tradisional)," kisah Gus Yudi. 

    Disisi lain ini juga karena keprihatinan Gus Yudi dimana saat itu marak anak muda yang suka mabuk dan tawuran. Terutama saat ada pertunjukan orkes. Dari pada anak-anak ini suka mabuk dan tawuran, maka ia berinisiatif untuk menyadarkan teman-temannya lewat doa bersama dan kesenian. Pertimbangannya daripada mereka membikin onar, maka melalui doa bersama, mujahadah, dan berkesenian mereka bisa dapat makan, dapat uang dan bisa dilihat orang banyak sebagai pemain kuda lumping (jaranan). 

    Sedangkan nama Padepokan Eyang Macan Putih itu sendiri didapat saat sedang ber-mujahadah. 

    "Jadi saat ber-mujahadah, di keramik ada tulisan huruf Jawa, terus tulisan Eyang Macan Putih. Tulisan itu bersinar," ungkap Gus Yudi. 

    Saat ditanyakan pada gurunya ternyata huruf Jawa itu bunyinya (artinya) Padepokan. Maka disampaikanlah keinginan Gus Yudi kepada gurunya bahwa dia ingin mendirikan kelompok jaranan (kuda lumping) dengan nama Eyang Macan Putih. 

    Pada awal berdiri masih belum punya gamelan. Saat memulai berkesenian dipinjami temannya alat hadrah. Sedangkan peralatan yang dimiliki sekarang adalah uang dari menjual tanah milikinya. Gamelan yang untuk reog dibeli di Ponorogo dan yang untuk jaranan beli di Loceret, Nganjuk. Dengan semangat dan terus melakukan evaluasi maka kelompok kesenian Padepokan Eyang Macan Putih menjadi berkembang. Video pementasan juga bisa dijumpai dimana-mana.

    Secara organisasi Padepokan Eyang Macan Putih berbentuk paguyuban dan sudah memiliki NPWP, Nomor Induk, Surat Keterangan terdaftar dari Bakesbangpol, akte notaris dan juga dari Kemenkumham. 

    Untuk harga tanggapan saat ini antara 9 juta sampai 15 juta Rupiah. Di Padepokan Eyang Macan Putih juga ada pengobatan alternatif. Ini untuk siapa saja dan penyakit apa saja. Semua akan dilayani. Mengenai kegiatan pengobatan ini Gus Yudi juga sudah banyak mendapatkan penghargaan. 

    "Harapan saya dari pemerintah memperhatikan pelaku-pelaku budaya," ungkap Gus Yudi. 

    Menyikapi program pemerintah yang berusaha menjadikan Kota Mojokerto sebagai kota pariwisata, maka langkah ke depan padepokan juga akan dijadikan sebagai galeri spirit of Mojopahit. Jadi di tempat ini akan kita tampilkan sebagai tempat oleh-oleh semacam PIN Surya Majapahit dan pernak-pernik yang bernuansa Majapahit. Ini tentu bersambung erat dimana Gus Yudi juga merupakan ketua Pokdawis (kelompok sadar Wisata) Bahari, yang merupakan Pokdarwis Kelurahan Pulorejo.


    (Agus Buyut)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini