MOJOKERTO - FBINEWSJATIM.NET
Radikalisme itu sangat identik dengan fanatisme pada suatu hal yang dilakukan secara berlebihan. Seperti fanatisme terhadap ideologi, politik, budaya dan juga adanya kesenjangan ekonomi. Akibatnya akan muncul sesuatu yang dianggap paling benar oleh seseorang atau kelompok tertentu dan tidak perduli dengan sudut pandang orang lain hingga tidak lagi menghiraukan hukum yang berlaku.
Adanya perbedaan-perbedaan penafsiran dan munculnya upaya membuat perubahan secara drastis bahkan dengan menggunakan kekerasan dapat menjadi masalah besar dan akan sangat berpengaruh terhadap perdamaian di tengah masyarakat. Tentu saja masyarakat menolak munculnya tindakan kesewenang-wenangan ini. Yaitu tindakan yang tidak mematuhi hukum.
Demi mengantisipasi berkembangnya paham radikalisme tersebut Polres Mojokerto kota menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Antisipasi Berkembangnya Paham Radikalisme Dikalangan Pelajar di wilayah hukum Polres Mojokerto Kota pada Sabtu (27/11/2021) yang bertempat di Gedung Sabha Kridatama, Pendopo Rumah Rakyat, Jl. Hayam Wuruk 50 Kota Mojokerto
Wakapolres Mojokerto Kota, Kompol Dr. Sarwo Waskito. S. Sos. SH. M.Hum. MM yang hadir pada saat itu pun menyampaikan bahwa mengenai radikalisme saat ini sudah banyak masuk dan berkembang dilingkungan sekolah. Untuk itu menjadi tugas bersama agar paham radikalisme bisa diperangi secara bersama.
Radikalisme itu ada pada semua agama. Kenapa Radikalisme banyak masuk dan mempengaruhi generasi muda? Itu dikarenakan pemuda memiliki semangat yang tinggi dan sangat mudah dipengaruhi.
Dengan adanya acara tersebut diharapkan Indonesia bebas dari komunisme, radikalisme, terorisme dan bebas dari premanisme.
Hal ini senada dengan sambutan Kepala Bakesbangpol Kota Mojokerto Bapak Moch. Imron S.Sos.,M.M, bahwa hendaknya kalangan pelajar pandai dalam menggunakan teknologi dengan memanfaatkan sisi baiknya.
Jangan sampai anak-anak muda terpengaruh dengan paham-paham radikal karena paham radikal bukan saja bisa mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara tapi juga bisa merusak kehidupan rumah tangga dan masa depan pemuda. Apalagi penyebaran paham radikalisme saat ini sangat marak disebarkan melalui media sosial dengan sasarannya adalah anak-anak muda.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kelompok - kelompok tertentu yang menganut ideologi tertentu/ekstrem, radikal atau yang dikenal dengan sebutan terorisme yang selama ini sangat meresahkan masyarakat luas dengan menggunakan cara bom bunuh diri, menembak. Tujuannya adalah untuk menakut-nakuti pada masyarakat sehingga masyarakat tersebut berubah pikiran.
Kegiatan yang melibatkan Wakil Kepala Sekolah urusan kesiswaan serta perwakilan siswa ditingkat SMP dan SLTA se wilayah hukum Polres Mojokerto Kota tersebut juga menghadirkan 2 narasumber mantan napiter yaitu Sutrisno alias Senggir dan Lutfi Teguh Oktavianto alias Abu Niswa.
Mereka memberikan wejangan kepada para peserta yang hadir bahwa seluruh kegiatan teroris merupakan propaganda yang tujuannya adalah memecah belah umat dan pelakunya adalah konspirasi global.
Bom bunuh diri bukanlah perilaku yang benar, karena tidak memberikan kemaslahatan kepada ummat Islam. Sebaliknya, malah memberikan mafsadah/kerusakan dan kesedihan ummat Islam.
Berkaca dari kenyataan pahit mengenai radikalisme tersebut seorang tokoh Nahdlatul Ulama dari Kecamatan Kemlagi H. Imron menyampaikan bahwa ia bersama Sutrisno alias Senggir dan Lutfi Teguh Oktavianto alias Abu Niswa bertekat akan membuat Rumah Moderasi Mojokerto yang tujuannya akan dijadikan tempat untuk menangkal program radikalisasi dikalangan pemuda dan masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di Mojokerto. Rumah Moderasi Mojokerto tersebut diperkirakan akan selesai akhir Desember 2021.
(Agus Buyut)

